Maafkan Aku Jika Belum Bisa Bilang Cinta

“Mencintai adalah kesiapan untuk memberi”
[Serial Cinta - Ust. Anis Matta]
[Serial Cinta - Ust. Anis Matta]
“Afwan... seandainya ana bisa mencintai anti sepenuh hati,“ gadis cantik
yang ada di depanku ketika itu makin deras mengucurkan air mata.
“Jadi… selama ini…??” ucapnya terbata. Tanpa sadar aku melukainya, membuat bahunya tambah berguncang hebat.
“Ana tak bisa bilang cinta… itu resikonya terlampau berat… sedang ana
belum melakukan apapun untuk anti… ana belum pernah berkorban sekuat
tenaga untuk membantu meringankan setiap beban anti… bahkan dalam setiap
sujud belum sekalipun menyebut nama anti dan mengucapkan doa tulus
khusus untuk anti… afwan ana harus jujur…” demikian panjang dan lebar
aku menjelaskan. Meski, pada akhir pertemuan ada penyesalan yang begitu
menyesakkan. Semoga tak pernah terulang di masa depan.
Mencintai adalah sebuah keputusan besar. Demikian kata ust. Anis Matta, di buku Serial Cinta
yang belum pernah bosan berulang-ulang kubaca. Beliau mengatakan cinta
adalah kata lain dari memberi… sebab memberi adalah pekerjaan… sebab
pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan
melindungi itu berat… sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu
yang lama… dan pekerjaan berat yang harus ditunaikan dalam waktu yang
lama itu hanya mungkin dilakukan oleh orang- orang yang berkepribadian
kuat dan tangguh.
Maka beliau mengingatkan, berhati-hatilah saat mengatakan “Aku
mencintaimu “. Kepada siapapun. Beliau mengatakan “Aku mencintaimu”
adalah ungkapan lain dari “Aku ingin memberimu sesuatu”. Itulah yang
sedikit banyak menggerakkanku untuk menata ulang kebiasaan lama yang
pernah dengan mudah sering mengatakan “Uhibbukum fillah… aku mencintai
antum saudari-saudari ku…”
Aku menginsyafi diri ternyata lebih sering ungkapanku hanya sekedar
kata. Sebab jika meraba hati rupanya belum banyak yang kulakukan untuk
membuktikan cinta pada saudara-saudaraku seiman. Pada saudara-saudaraku
sepergerakan. Pada mad’u yang pernah kupegang. Pada siapapun. Karena
ungkapan cintaku butuh pembuktian. Sebab jika tak ada pembuktian,
integritas diri bakal menghilang. Tak salah jika akan lenyap rasa
kepercayaan. Dan tak ada cinta tanpa kepercayaan.
Mencintai adalah kesiapan untuk memberi. Memberi pertolongan maksimal
saat saudara-saudaraku membutuhkan. Dengan ide, tenaga dan isi kantong
jika perlu. Memberi pundak untuk bersandar jika mereka mulai merasa
lelah dengan segala beban. Memberi pelukan hangat saat mereka butuh
untuk dikuatkan. Memberi senyuman semangat meski kadang batin juga
sedang terguncang hebat. Memberi kualitas pertemuan terbaik di sela
kepadatan jadwal masing-masing. Tak lupa pula, memberi doa terindah
dalam sepi di setiap sujud panjang di hadapan Rabb kita. Demikian
sederet pembuktian yang mungkin bisa dilakukan saat aku mengatakan pada
mereka “Uhibbukum fillah”. Tak pantas kiranya jika aku hanya berdiam
diri tanpa melakukan apapun.
Itu yang pada akhirnya membuatku lebih berhati-hati untuk tidak
mengumbar deklarasi cinta belakangan ini. Aku menggantinya dengan “I’ll
try to love you…hardly”. Dengan harapan, aku berazzam untuk tidak
berhenti berusaha mencintai saudara-saudara seiman dengan sepenuh hati.
Dan yang terpenting, mencintai mereka dengan sepenuh bukti.
Hingga besar harapan termasuk golongan yang disebut dalam sabda Sang Nabi ini.
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada yang bukan Nabi, tetapi
para Nabi dan Syuhada merasa cemburu terhadap mereka. Ditanyakan :
“Siapakah mereka? Semoga kami dapat mencintai mereka. Nabinya menjawab :
“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena cahaya Allah
tanpa ada hubungan keluarga dan nasab di antara mereka. Wajah-wajah
mereka tidak takut di saat manusia takut dan mereka tidak bersedih di
saat manusia bersedih.”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar