Assalamu'alaikum ukhti akhi :)
SEMUA
manusia pernah berdosa. Tidak seorang pun yang luput dari kesalahan. Besar ataupunkecil.
Sengaja atau tidak disengaja. Sebab, fitrah manusia adalah tempat salah dan
lupa. Tidak ada manusia yang maksum, kecuali Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi
Wassalam yang dosanya telah diampuni dan dijamin surga. Hal itu tidak lain
karena Allah telah memberikan dua potensi dasar kepada manusia: fujur (negatif)
dan taqwa (positif). Hal itu pula yang menyebabkan fluktuasi iman dan bahkan
cenderung kepada salah satunya yang bakal menentukan posisinya di akhirat :
neraka atau surga.Lebih dari itu, syetan tidak pernah henti menggoda dan
menjerumuskan manusia ke lembah nista. Armadanya datang dari segala penjuru:
depan, belakang, dan samping. Berbagai macam ranjau dan jebakan dipasang. Daya
ledaknya pun luar biasa. Isi dunia dipercantik agar manusia terlena. Tak jarang
manusia yang tergoda hingga terjerumus ke dalam tipu dayanya yang semu. Namun,
meski manusia bergelimang dosa, Allah telah menyediakan ampunan-Nya yang tak terbatas.
Pintu tobatnya selalu terbuka lebar. Meski dosa manusia seluas samudera dan
setinggi gunung. Allah akan tetap mengampuninya.
Ia sangat
senang kepada hamba-Nya yang berdosa lalu datang kepada-Nya dan ber-istighfar
seraya bertobat. Senang-Nya itu bahkan melebihi seorang ayah yang menemukan
anaknya yang telah lama hilang. Allah sengaja tidak menciptakan manusia bersih
dari segala dosa. Sebab, hidup adalah ujian yang telah didesain sedemikian
rupa. Hal itu untuk mengetahui siapakah di antara hamba-hamba-Nya yang lolos
ujian dan kelak, di akhirat, berhak menggondol rapor dari tangan kanan. Karena
itu, jika ada sekelompok manusia yang tidak pernah berdosa di muka bumi ini,
maka Allah akan memusnahkannya dan menggantinya. Hal itu senada dengan hadits
yang diriwayatkan Muslim.
“Demi
jiwaku yang berada di tangan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah
akan memusnahkan kalian dan akan menggantinya dengan kaum pendosa lalu mereka
memohon ampunan kepada Allah dan Allah pun mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR.
Muslim).
Kendati
begitu, tidak menjadi alasan bagi kita untuk menumpuk dosa dan mengulur tobat
dengan alasan karena Allah Maha Penerima tobat. Janganlah berfikir mumpung
masih hidup. Mumpung masih muda. Mumpung masih berlimpah harta. Mumpung masih
banyak waktu, lantas asyik masyuk bergelimang dosa dan lupa tobat. Sebab, tak
seorang pun tahu kapan usianya akan tutup. Bisa detik ini. Bisa hari ini. Bisa
lusa. Bisa bulan depan. Atau bahkan bisa tahun depan. Tak mengenal usia, waktu,
dan tempat. Sebab, jika ajal telah keluar dari raga, maka pintu toba telah
ditutup rapat. Penyesalan terlambat. Yang ada hanya derita sepanjang masa di
akhirat.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘Aku meminta ampunan kepada Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia, yang hidup dan berdiri sendiri, mengatur makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya.’ Maka dosanya akan diampuni meskipun ia pernah melarikan diri dari medang perang.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dan Al Hakim).
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘Aku meminta ampunan kepada Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia, yang hidup dan berdiri sendiri, mengatur makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya.’ Maka dosanya akan diampuni meskipun ia pernah melarikan diri dari medang perang.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dan Al Hakim).
Karena
itu, tak ada alasan untuk tidak ber-istighfar dan bertobat. Sebesar apapun dosa
dan keselahan yang diperbuat. Setiap hari, setiap saat dan di manapun bibir
kita harus senantiasa basah dengan istighfar. Jangan sampai dosa yang diperbuat
tidak di-istighfari lalu menumpuk sehingga hati menjadi keras dan gelap dari
cahaya dan hidayah Allah. Janganlah menyepelekan dosa yang kecil yang kerap
dilakukan setiap hari. Jangalah melihat kuantitas dosa yang diperbuat. Tapi,
lihatlah kepada siapa kita bermaksiat. Rasulullah saja yang telah dijamin
surga, setiap hari lisanya tak pernah alpa dari istighfar. Seperti yang
termaktub dalam hadits Bukhori berikut.
“Aku
pernah mendengar Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Demi Allah,
sesungguhnya aku biasa memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah dalam sehari
lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhori).Kita dengan Rasulullah tentu sangat
jauh berbeda. Tidak bisa dibandingkan. Ibadah beliau sempurna. Akhlak beliau al
Quran. Perkataan dan tindak tanduk beliau mulia. Beliau maksum dan dijamin
surga. Namun, meski demikian, beliau masih bersusah payah untuk beristighfar
kepada Allah. Sedangkan kita? Dosa yang kita perbuat tentu amat banyak.
Terlebih di akhir jaman yang penuh fitnah dan jerat tipu daya syetan durjana.
Hampir di seluruh medium di dunia ini mengundang dosa. Di TV, di internet, di
jalan-jalan, dan di berbagai medium lainnya yang berkontribusi kepada dosa.
Karena
itu, sudah seharusnya intensitas dan kuantitas istighfar kita kepada Allah jauh
lebih besar. Apalagi, kita tidak memiliki garansi dan tiket masuk surga
sebagaimana Nabi Muhammad. Meski begitu, kita dilarang berputus asa dari
maghfirah dan rahmat Allah. Allah senantiasa membuka pintu maghfirah-Nya
lebar-lebar.
وَمَن
يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ
غَفُوراً رَّحِيماً“
“Dan barangsiapa berbuat kejahatan
dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia
akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(Q.S. An Nisa :110)
Selaksa
faedah.Istighfar secara harfiah artinya memohon ampunan. Ampunan Allah Ta’ala
dapat diraih dengan istighfar yang diucapkan dengan tulus dan ikhlas serta
diiringi pertobatan yang dalam. Tak ada yang bisa menjamin manusia bersih dari
dosa. Karena itu, Allah menganjurkan hamba-Nya untuk senantiasa beristighfar
atas segala kesalahan dan dosa yang diperbuat. Istighfar memiliki banyak
faedah. Tidak saja di dunia, namun juga di akhirat. Di antaranya, istighfar
bisa menghapus dosa sebagaimana api yang melahap kayu hingga habis.
Selain
itu, istihgfar juga bisa mengangkat azab. Sebab, dosa yang dilakukan manusia,
baik secara individu maupun kolektif bisa mengundang azab dan murka Allah
Ta’ala. Karena itu, salah satu cara mengangkat azab itu dengan istighfar.
Sebagaimana yang termaktub dalam al Quran surah Al Anfal 33. وَمَا
كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ
وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (istighfar).” (QS. Al-Anfaal: 33).
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (istighfar).” (QS. Al-Anfaal: 33).
Orang yang
beristighfar hidupnya akan merasa aman, damai, dan selalu diliputi ketenangan
jiwa. Sebab, hidupnya akan terarah dan merasa diawasi oleh sang Khaliq. Karena
itu, jiwanya akan selalu takut jika berbuat salah dan dosa. Ia akan selalu
kembali dan meninggalkan dosa yang telah diperbuat (QS: Huud 3).
Istighfar
juga memiliki faedah lainnya. Efeknya tidak saja individual yang ditandai
dengan diampuninya dosa, tapi juga bisa bisa menjadi sebab turunya hujan.
Sebagaimana yang dikatakan Allah dalam QS Nuh: 10-11. Karena itu, bila suatu
negeri dilanda kekeringan dan kemarau panjang karena dosa kolektif yang
menumpuk dan tidak pernah di-istighfari. Terakhir, istighfar akan menghilangkan
kesusahan, gundah gulana, dan mengundang terbukanya pintu rezeki. Sebagaimana
yang tertera dalam kitab Riyadhus Shalihin dalam hadits riwayat Abu Dawud
dijelaskan, “Barangsiapa yang terbiasa istighfar, Allah akan menjadikan
untuknya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kesusahannya, dan diberi
rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Istighfar
adalah perbuatan simpel dan mudah untuk dilakukan. Tidak terlalu butuh tenaga
ekstra dan waktu khusus. Di rumah, di pasar, di kantor, dan di masjid. Waktu
berbaring, duduk, dan mengendara mobil. Istighfar bisa dilakukan. Namun,
faktanya, kita sering alpa. Padahal, dengan istighfar yang tulus, dosa kita
akan diampuni dan juga mengundang selaksa faedah lainnya. Oleh karena itu, mari
perbanyak istighfar.
اللهم
اغفرلي ,اللهم ارحمني ,أستغفر الله و أ تبو إ ليه
“Ya Allah,
ampuni dan rahmatilah aku. Aku meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah.”
Semoga bermanfaat cukup sekian dan terimakasih :)
Akhir kata Wabilahitaufik Walhidayah Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar